Indonesiadaily.net – Pertandingan Liga 1 antara Arema FC kontra Persebaya yang mengakibatkan kerusuhan hingga ratusan orang meninggal dunia ditengarai adanya potensi maladministrasi.
Anggota ORI, Johanes Widijantoro menyebutkan, jika potensi maladministrasi ini dilihat berdasarkan dari sejumlah data yang mereka himpun.
“Dari data sementara yang ada baik pemberitaan media, telaah regulasi, maka Ombudsman memandang ada potensi maladministrasi,” kata dia dari keterangannya, Senin (3/10).
Dia menjelaskan, PSSI memiliki regulasi yang mengatur keselamatan dan keamanan selama pertandingan berlangsung. Regulasi keselematan dan Keamanan (RKK) PSSI 2021 diatur dalam Pasal 1 huruf 2 RKK itu dimaksudkan untuk memastikan keselamatan dan keamanan di dalam dan sekitar stadion, sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan pertandingan atau kompetisi.
Dia menjelaskan, dalam pertandingan ini, ORI melihat ada tiga lembaga yaitu PSSI mendelegasikan pelaksanaan pertandingan atau kompetisi kepada panitia pelaksana (panpel/dari Arema), operator pertandingan (PT Liga Indonesia Baru/LIB), dan kepolisian.
“Tiga lembaga tersebut berkolaborasi untuk menjamin keamanan dan keselamatan pertandingan atau kompetisi. Panpel bertugas menyelenggarakan pertandingan. PT LIB mengelola kompetisi dan turnamen sepak bola profesional. Sedang kepolisian memberikan layanan pengamanan,” kata Johanes
Dari temuan sementara ORI didapati sejumlah permasalahan di antaranya, jumlah penonton yang melebihi batas rekomendasi, keberadaan layanan kedaruratan dan memastikan identitas penonton yang seharusnya disiapkan panitia pelaksana, serta mekanisme pengendalian massa oleh kepolisian.
“Beberapa permasalahan itu yang dapat menjadi langkah awal pemeriksaan dugaan maladministrasi,”ucapnya
Karena hal itu, melalui kantornya di Jawa Timur mereka akan melakukan melakukan investigasi atas prakarsa sendiri (IN) sesuai pasal 7 huruf d Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman RI.
Seperti diketahui, laga liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya berakhir ricuh dan ratusan nyawa suporter menghilang. Musababnya, kericuhan itu berlangsung setelah para suporte merangkak masuk ke stadion.
Polisi yang mencoba mengendalikan situasi, menembakan gas air mata hingga menyebabkan suporter berlarian. Akibatnya, banyak suporter yang meninggal setelah terinja-injak. Hingga saat ini kasus ini masih terus diselidiki pihak Kepolisian. *
Editor: Nurkomalasari






