Berkaca dari Kasus Lesti Kejora – Rizky Billar, Ini Mitos Tentang KDRT yang Tak Lagi Harus Dipercaya

ilustrasi lesti dan rizky
Lesti Kejora dan Rizky Billar.

Indonesiadaily.net – Meski sempat membuat heboh, lalu membawa kasus nya ke ranah hukum, dugaan KDRT yang dilakukan Rizky Billar kepada sang istri, Lesti Kejora berakhir dengan damai.

Lesti mencabut laporan di Polres Jaksel, sedangkan Billar yang sempat merasakan dinginnya hotel prodeo kini telah bebas.

Bacaan Lainnya

Perlu diketahui, pelaku KDRT sering kali melakukan aslinya bukan hanya ketika emosi, tapi juga ingin mendominasi.

Ada beberapa mitos yang seharusnya tidak lagi kamu percaya tentang KDRT, berikut ini tujuh mitos tentang KDRT yang seharusnya tidak lagi kamu percaya, seperti dilansir dari Suara.com.

1. Alkohol dan Narkoba Membuat Lelaki Lebih Kejam

Faktanya, alkohol dan narkoba hanya pada penyalahgunaanya, tapi banyak orang yang mengonsumsi alkohol atau narkoba tapi tidak melakukan KDRT pada pasangannya. Jadi ini bukan alasan untuk memaafkan pelaku, karena pelakulah yang bertanggung jawab pada KDRT.

2. Kalau KDRT Terlalu Kejam, Korban Otomatis akan Pergi

Faktanya sebagian besar korban KDRT, khususnya perempuan akan sulit meninggalkan pasangannya, yang jadi pelaku KDRT.

Bahkan tak jarang perempuan masih mencintai dan percaya pada pasangannya, ketika pelaku mengaku menyesal dan berjanji takan terjadi lagi, atau bahkan korban khawatir pada keselamatan anaknya.

3. KDRT Hanya Melibatkan Fisik

Kenyataannya, KDRT adalah insiden dengan pola berulang seperti mengontrol, memaksa, mengancam, merendahkan, kekerasan termasuk kekerasan seksual.

4. Pelaku Tetap Akan Jadi Orangtua yang Baik

Faktanya 90 persen anak-anak yang ibunya alami pelecehan seksual, menyaksikan perilaku KDRT tersebut. Efek traumatis pada akan akan bertahan lama, yang hasilnya dianggap sebagai kekerasan pada anak.

Bahkan 40 hingga 70 persen anak yang melihat langsung jadi korban dari pelaku KDRT.

5. KDRT Masalah Pribadi bukan Masalah Sosial

Kenyataanya, dampak KDRT akan menghasilkan biaya besar di masyarakat, termasuk perawatan di rumah sakit, pengobatan, pengadilan, pengacara hingga penjara.

KDRT terjadi setiap hari di seluruh dunia, dan bisa sangat mempengaruhi perempuan, terlebih bila memicu korban atau penyintas KDRT. Sehingga KDRT adalah kejahatan serius dan meluas.

6. Perempuan Sama Kasarnya dengan Lelaki

Faktanya, sebagian besar kasus KDRT dilakukan lelaki kepada perempuan, tak jarang perempuan dibunuh pasangan atau mantan pasangannya.

Data Maret 2019 menemukan mayoritas atau 92 persen terdakwa KDRT adalah lelaki.

7. KDRT Terjadi karena Emosi Sesaat

Kenyataannya, KDRT jarang terjadi karena didasari pelaku yang emosi sesaat atau saat hilang kendali, tapi tujuannya untuk mengambil alih.

Ini karena lelaki kasar umumnya jarang bertindak dengan spontan saat marah, tapi mereka cenderung sadar dan memilih kapan akan menyiksa pasangannya.

Bahkan pelaku KDRT cenderung akan memilih melakukan aksinya saat merasa sendirian dan tidak ada saksi, atau jika pun ada saksi yaitu saat saksi masih anak-anak.(*)

 

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *