Indonesiadaily.net – Sebanyak 200 vial obat Fomepizole (penawar racun) untuk tangani gangguan ginjal akut (acute kidney injury/AKI akan didatangkan dari Singapura dan Australia. Satu obat nilainya Rp 16 juta.
Hal tersebut dikatakan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Pemerintah akan menanggung biaya obat penawar racun tersebut.
“Untuk biaya sementara kita yang tanggung,” ujarnya.
Budi Gunadi menuturkan, ratusan vial obat itu akan didatangkan dari Singapura dan Australia. Vial merupakan wadah dosis tunggal atau multi dosis suatu obat.
“Kita mau bawa 200 dulu karena satu vial bisa buat satu orang,” kata Budi Gunadi.
Budi Gunadi lantas mengaku telah menghubungi rekannya, Menteri Kesehatan Singapura dan Australia terkait pengiriman obat ini.
Obat tersebut nantinya akan disuntikkan beberapa kali ke pasien gangguan ginjal akut misterius.
Namun, menurutnya, setiap pasien cukup menerima satu vial.
“Ada beberapa kali injeksi tapi bisa cukup satu vial,” ujar Budi Gunadi.
Sebelumnya, pasien gangguan ginjal akut misterius mencapai 241 kasus per Jumat (21/10/2022). Sebanyak 133 di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Budi Gunadi menyebut fatality rate atau tingkat kematian penyakit ini mencapai 55 persen.
Kemenkes sementara menduga kelainan ginjal akut misterius itu disebabkan senyawa kimia berbahaya etilen glikol, dietilen glikol, dan etilen glikol butyl ether/EGBE.
Zat ini ditemukan pada pasien AKI yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Sejak akhir Agustus 2022, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menerima laporan peningkatan kasus Gangguan Ginjal Akut Acute Kidney Injury (AKI) yang tajam pada anak, utamanya di bawah usia 5 tahun.
Seiring dengan peningkatan tersebut, Kemenkes meminta para orang tua untuk tidak panik, tetap tenang, namun selalu waspada terutama ketika anaknya mengalami gejala yang mengarah kepada gagal ginjal akut. Seperti ada diare, mual, muntah, demam selama 3-5 hari, batuk, pilek, sering mengantuk, serta jumlah air seni/air kecil semakin sedikit bahkan tidak bisa buang air kecil sama sekali.
“Ini sangat penting kepada seluruh masyarakat khususnya yang mempunyai anak di bawah umur 18 tahun, utamanya adalah anak balita, kalau terjadi penurunan frekuensi buang air kecil dan juga penurunan air kencingnya, bahkan sama sekali tidak keluar air kencingnya atau yang disebut anuria itu maka segera dilakukan pemeriksaan atau dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Juru Bicara Kemenkes Syahril.
Syahril juga meminta keluarga pasien untuk membawa atau menginformasikan obat yang dikonsumsi sebelumnya, dan menyampaikan riwayat penggunaan obat kepada tenaga kesehatan. (*)
Editor : Nur Komalasari






