Indonesiadaily.net – Dunia prostitusi di Jakarta masih menyerebak. Jika dulunya di kawasan Kalijodo, kini hal itu ada di kawasan Rawa Malang, Cilincing, Jakarta utara.
Tempat prostitusi di Hutan Kota Rawa Malang, Cilincing itu pun ditutup oleh Satpol PP pada Senin 26 September 2022. Kafe remang-remang yang diduga menjadi tempat praktik prostitusi terselubung didatangi petugas Satpol PP Jakarta Utara.
“Kita sudah kirim tim bersama stakeholder setempat. Disampaikan mulai malam ini untuk menutup warung-warungnya dan tidak ada lagi kegiatan serupa,” kata Kapolsek Cilincing, Kompol Haris Akhmad.
Haris mengatakan, setidaknya ada 10 warung yang menjadi tempat prostitusi di lokasi. Didalamnya ada 30 puluh pekerja seks komersial (PSK) yang siap di tempat tersebut dan sudah ditertibkan.
Salah seorang warga sekitar Rawa Malang, Cilincing yang enggan disebutkan namanya menjelaskan, selama ini masyarakat merasa terganggu dengan adanya praktek prostitusi tersebut. Bahkan, beberapa anak muda telah menerapkan pergaulan bebas.
“Mereka sudah tidak bisa menjaga privasinya, akhirnya kan menimbulkan gejolak. Malah terganggu. Kedua, keresahan tentang pergaulan bebas anak-anak muda,” ujar warga itu.
Praktek prostitusi di Rawa Malang, Cilincing ini tentu saja mengingatkan dengan masa lalu di kawasan Kalijodo. Sebuah lokalisasi yang namanya sempat tenar beberapa tahun yang lalu di kalangan penikmat wisata malam.
Nama Kalijodo sebenarnya sudah terkenal jauh sebelum itu, tepatnya di zaman pendudukan Belanda. Sesuai dengan namanya, Kalijodo, di lokasi ini, dulunya dipakai masyarakat untuk memadu kasih dan saling berjodoh.
Nama Kalijodo mulai jadi buah bibir sekitar tahun 1600-an. Kala itu, ada suatu tempat yang dijadikan penduduk Batavia dari etnis Tionghoa untuk mencari gundik dari perempuan lokal. Karena tempatnya mencari istri itu ada di bantaran sungai maka daerahnya disebut Kalijodo.
Di tempat tersebut ada juga pekerja seks. Sejak itu lah tempat yang menjadi tempat favorit pria Tionghoa mencari perempuan lokal itu disebut Kalijodo yang kurang lebih bermakna, sungai tempat mencari jodoh.
Sampai akhirnya, di zaman Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, prostitusi di Kalijodo akhirnya diberantas. Tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP dan kepolisian dikerahkan untuk meratakan Kalijodo. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada Senin 29 Februari tahun 2016.
Ahok kemudian menyulap Kalijodo yang dulunya lekat dengan dunia hitam, menjadi RPTRA yang hijau dan ramah anak. Sirna sudah bisnis prostitusi, perjudian dan premanisme di Kalijodo. (*)
Editor : Pebri Mulya






