Senin, April 15, 2024

Tingkat Fenomena Bunuh Diri di Korsel Tinggi, Ini Ternyata Alasannya

 

Indonesiadaily.net– Korea Selatan memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di antara negara-negara yang menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), dengan 25,2 kematian di antara 100.000 orang. Lantas, apa penyebab tingginya fenomena bunuh diri di Korea Selatan?

Aktor Korea Selatan yang membintangi film Parasite, Lee Sun Kyun, ditemukan meninggal dunia di Waryong Park, Jongno-gu, Seoul, Rabu (27/12/2023). Aktor yang berperan dalam drama Korea Coffee Prince itu diduga bunuh diri. Kepergian Lee Sun Kyun menambah daftar panjang kematian selebritas asal Korea yang bunuh diri.

Berdasarkan data yang dirangkum Kementerian Kesehatan dan Badan Pengendalian & Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), sebanyak 39.454 warga Korea Selatan melakukan bunuh diri dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, yakni sepanjang 2020 hingga 2022.

Melansir dari Asia Times, data Statistik Korea menemukan bahwa rata-rata sebanyak 37,5 orang melakukan bunuh diri setiap harinya. Angka itu setara dengan satu kasus bunuh diri setiap 39 menit.

“Angka bunuh diri meningkat secara proporsional seiring dengan bertambahnya usia. Rasio penduduk berusia 80 tahunan ke atas adalah 69,8 dan penduduk berusia 40 hingga 50 tahunan adalah 48,6,” tulis laporan Asia Times.

Melansir dari Asia Times, secara kasatmata, Korea Selatan adalah salah satu negara maju dengan perekonomian yang makmur, perkembangan teknologi yang pesat, pendidikan yang terjamin, hingga memiliki budaya yang populer dan dikagumi secara global. Namun, di balik kesuksesan Korea Selatan ternyata ada masyarakat yang “bermasalah” dan sedang “bergelut” dengan diri sendiri. Hal ini dibuktikan dengan tingginya tingkat bunuh diri di negara tersebut.

Baca Juga  Tak Hanya Pneumonia, Dokter Ingatkan Untuk Waspada terhadap TB

Pada 2019, World Population Review menemukan bahwa kesehatan mental dan lingkungan eksternal menjadi penyebab tingginya angka bunuh diri di Korea Selatan.

Menurut laporan yang sama, rasa malu menjadi salah satu penyebab utama “motivasi” untuk bunuh diri bagi masyarakat Korea Selatan. Penyebab rasa malu tersebut bisa beragam, seperti akibat tindakan yang telah dilakukan hingga malu akibat menjadi korban.

Para ahli lainnya mengatakan bahwa faktor ekonomi turut berkontribusi terhadap meningkatnya angka bunuh diri di Korea Selatan. Adapun, kelompok yang paling sensitif terhadap faktor ini adalah kelompok lanjut usia (lansia) yang terjebak di dalam garis kemiskinan.

“Penyebab fenomena bunuh diri di Korea meningkat adalah bunuh diri di kalangan orang dewasa. Hal ini terjadi setelah krisis keuangan Asia pada 20 tahun yang lalu dan faktor perekonomian lainnya,” ujar penulis The New Koreans, Michael Breen.

“Ada banyak sekali kasus bunuh diri yang terjadi pada orang lansia. Mereka tidak minum obat ketika sakit karena tidak ingin menjadi beban bagi keluarga atau orang lain,” ungkap Breen.

Percepatan pembangunan nasional dari masyarakat pedesaan yang tradisional menjadi masyarakat perkotaan yang modern hanya dalam waktu satu generasi turut menjadi penyebab tingginya angka bunuh diri di Korea Selatan.

“Perubahan lingkungan eksternal menimbulkan ‘perasaan minder akibat perbedaan kekayaan’ yang mengarah pada penyakit mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan, serta perpecahan keluarga,” ungkap Presiden Asosiasi Psikologi Korea, Cho Hyun-seob.

Sementara itu pada kasus bunuh diri di kalangan idola Korea Selatan, salah satu penyebab utamanya adalah budaya penggemar yang toxic alias beracun. Tingginya angka penggemar anonim atau tanpa identitas di internet membuat hinaan dan penghakiman menjamur di kalangan idola.

Baca Juga  Piala Dunia 2022 : Portugal Kalahkan Ghana, Korea Selatan Lawan Uruguay Imbang

Menurut data Statistik Korea, angka bunuh diri laki-laki adalah sebesar 38,5 per 100 ribu, yakni 2,6 kali lebih tinggi daripada perempuan yang sebesar 14,8.

Meskipun demikian, perempuan lebih berisiko melakukan bunuh diri akibat rasa malu dari warisan seksisme parokial di Korea Selatan.

Di Korea Selatan, seorang perempuan yang “kesuciannya” telah ternodai melakukan bunuh diri untuk membuatnya menjadi “sangat terhormat”. Menurut ahli budaya tradisional, Joanne Kim, sejumlah keluarga bahkan memaksa perempuan untuk bunuh diri demi menjaga reputasi keluarga.

Menurut para ahli, ada banyak hal proaktif yang harus dilakukan Pemerintah Korea Selatan. Dalam hal ini, pemerintah harus mengakui bahwa bunuh diri adalah masalah yang bisa dialami semua orang dan mengaktifkan jaringan multidisiplin serta terpadu untuk melakukan upaya mitigasi bunuh diri.

Ada banyak masalah yang menjadi penyebab utama bunuh diri di Negeri Ginseng. Berikut data penyebab bunuh diri berdasarkan hasil autopsi yang dilakukan oleh Korea Psychological Autopsy Center terhadap 391 kasus bunuh diri pada 2015 hingga 2018.

86,7 persen memiliki masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecanduan, gangguan kecemasan, gangguan tidur, dan lain-lain,61,6 persen memiliki masalah keluarga,59,3 persen memiliki masalah ekonomi, seperti kewajiban, penurunan pendapatan, dan kemiskinan,
57,3 persen memiliki masalah di tempat kerja, seperti hubungan pribadi, perubahan beban kerja, dan masalah bisnis wiraswasta,32 persen memiliki masalah kesehatan fisik

Baca Juga  Ini Pernyataan Manajer Tempat Hiburan Berkaitan Kasus Narkoba G-Dragon

Rumitnya akar penyebab fenomena bunuh diri di Korea Selatan ditunjukkan oleh salah satu kasus bunuh diri yang paling disoroti di Korea Selatan, yakni Wali Kota Seoul, Park Won-soon. Breen mengatakan, Park diduga bunuh diri karena berpikir bahwa akan ada “Suatu hal mengerikan yang terjadi”.

“Sesuatu itu adalah kemungkinan penghinaan publik. Prospek yang dihadapinya adalah kehancuran reputasi dan akhir kariernya,” ungkap Breen.

Setelah ditelusuri, Wali Kota Seoul bersikap normal sebelum kematiannya yang mengejutkan. Park dilaporkan menghilang, meninggalkan catatan bunuh diri, dan bunuh diri sehari setelah mengetahui bahwa mantan sekretaris perempuannya baru saja mengajukan pengaduan ke polisi atas tuduhan pelecehan seksual selama bertahun-tahun.

Dilaporkan, banyak warga Korea Selatan yang terkejut dengan kasus bunuh diri Park. Sebab, Park adalah laki-laki yang dianggap sebagai “orang baik”. Terlebih, dia pernah menjabat sebagai pengacara hak-hak perempuan dan dikenal karena pengabdiannya untuk tujuan sosial dan kesetaraan.

Breen mengatakan, budaya dan sanksi sosial yang “tidak kenal ampun” menjadi salah satu faktor utama penyebab meningkatnya keinginan seseorang di Korea Selatan untuk bunuh diri.

“Dalam budaya Kristen, ada siklus pertobatan, pengampunan, dan belas kasihan yang dimasukkan ke dalam sistem hukum. Namun, hal tersebut tidak banyak terjadi di Korea Selatan sehingga rasa malunya sangat besar,” jelas Breen.

Dengan demikian, bunuh diri dipilih sebagai cara untuk menghindar dari penghinaan publik. Sebab, opini publik bersifat pendendam. Sementara sistem peradilan memiliki tingkat hukuman yang sangat tinggi.(*)

 

Editor : Nur Komalasari


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles