Senin, April 15, 2024

Siap-siap! Dolar AS Melejit, Harga Mobil Bisa Naik

Indonesiadaily.net – Belakangan harga dolar Amerika Serikat (AS) terus meroket. Pagi ini harga dolar hampir menyentuh Rp 15.000, dimana Dolar diperdagangkan dikisaran Rp 14.992.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah masih tinggi. Rupiah makin loyo setelah hampir menyentuh Rp 15.000. Pagi ini, dolar AS mencapai Rp 14.992.

Naiknya harga dolar AS akan diprediksi berimbas pada industri otomotif yang membuat harga mobil bisa naik.

Diberitakan detikFinance, dari data RTI mata uang Paman Sam berada di level tertingginya pada Rp 15.000 dan terendahnya Rp 14.974. Dolar AS menguat terhadap rupiah secara harian hingga bulanan.

Industri otomotif akan kena dampaknya jika kurs dolar AS terus menguat. Efeknya, harga mobil bisa naik lagi.

Baca Juga  Akuisisi Danareksa Investment Management, BRI Tegaskan Visi Menjadi “The Most Valuable Banking Group in South East Asia & Champion of Financial Inclusion”

“Tentu ada pengaruh ke biaya atau cost. Tapi harus kami monitor trennya seperti apa. Termasuk angka inflasi, harga material dan lain-lain,” kata Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor Anton Jimmi Suwandy kepada detikcom, Jumat 15 Juli 2022.

Anton menyebut, pihaknya terus memantau kondisi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Dia menilai, ada kemungkinan harga mobil naik lagi karena pengaruh dolar AS, meski per 1 Juli 2022 Toyota baru mengerek harga mobilnya.

“Bulan Juli ini baru saja ada kenaikan harga. Saat ini masih monitor dulu, tapi kemungkinan kenaikan harga lagi memang masih ada,” ucap Anton.

“Kita akan lihat trennya, apakah akan berubah drastis atau tidak,” sebutnya.

Baca Juga  Shopee PHK Massal Pegawainya Lagi, Total Sudah 7.000 Orang Dilepas

Dikonfirmasi terpisah, Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor Yusak Billy mengatakan, memang nilai tukar dolar AS menjadi salah satu faktor penentuan harga mobil. Namun, kata Billy, Honda berusaha menekan kenaikan biaya agar harga mobilnya tidak melambung tinggi.

“Penyesuaian harga banyak faktornya. Nilai tukar mata uang asing salah satunya. Faktor lain seperti inflasi dan juga kenaikan biaya produksi (kenaikan bahan baku, biaya logistik dll) yang sangat tinggi juga bisa menyebabkan kenaikan harga. Namun kami selalu berusaha menekan kenaikan biaya tersebut dengan berbagai efisiensi di segala lini dan meningkatkan produktivitas kerja,” sebut Billy kepada detikcom, Jumat 15 Juli 2022.

Baca Juga  Sukses Kendalikan Inflasi dan Inovasi Digital Ekonomi, Depok Sabet Penghargaan Bergengsi Ini

 

Sumber: Detik.com
Editor : Saleh Dermawan

 


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles