Senin, Juni 17, 2024

Pengamat Siber : Membobol Data Digital di Indonesia Memang Semudah Itu

Indonesiadaily.net – Dugaan kebocoran data digital sedang dialami Indonesia dalam beberapa hari ini. Tentunya itu sebuah catatan untuk keamanan data digital, terutama untuk pemerintah.

Pengamat keamanan siber, Ruby Alamsyah mengatakan, sejak tahun 2019 sampai sekarang ini, kebocoran data di Indonesia terjadi secara masif. Hal itu memperlihatkan pemerintah yang belum sadar akan keamanan teknologi informasinya.

“Kalau dari pengamatan 2019-2022 dimana masifnya kebocoran data digital di indonesia baik di instansi pemerintah swasta. Itu menggambarkan bahwa masih banyak instansi pemerintah yang tidak aware terhadap keamanan IT-nya sehingga tidak mengoptimalkan keamanan IT dibandingkan dengan produk dan jasa yang mau sampaikan. Intinya yang buat sistem ini fokusnya adalah agar produknya jadi, agar jasanya bisa dijalankan. Pengamanan dianaktirikan dan kalau ada kasus baru mereka melakukan pembenahan di sistem keamanan IT,” jelasnya.

Baca Juga  Begini Usaha Ipkemindo DKI Tingkatkan Kesejahteraan dan Hilangkan Stigma Mantan Narapidana

Dia mencontohkan masih adanya perusahaan teknologi besar yang mengalami kebocoran besar. Padahal memiliki dana yang banyak, teknologi, hingga sumber daya manusia. Penyebabnya adalah pihak yang mengelola data hanya berfokus pada penyampaian produk saja dan akhirnya bisa diretas dengan mudah oleh hacker. Sedangkan untuk pemerintah, alasan data digitalnya mudah dibobol, karena kekurangan SDM dan juga teknologi.

“Sehingga at some point bisa diretas hacker dengan cara mudah. Kalau ngebobol canggih kita acungin jempol dan ada effort dari Penyelenggara Sistem Elektronik. Masih sangat rentan di Indonesia, khususnya instansi pemerintah dan sering kali beralasan kekurangan SDM maupun teknologi,” ungkap Ruby.

Dihubungi terpisah, pegiat keamanan siber, Niko Tidar mengatakan, pengelolaan keamanan siber masih sangat kurang. Misalnya saja data yang harusnya tidak dibagikan oleh pembuat aplikasi namun yang terjadi sebaliknya.

Baca Juga  Ingin Kaya? Ayo Coba Metode Kakeibo, Menabung Ala Orang Jepang

Dia juga menyatakan, hacker bisa dengan mudah mengambil data-data tersebut. Alasannya, karena pengelolaan dan penanganan di Indonesia sendiri masih sangat kurang.

“Karena memang semudah itu untuk kita yang orang bilang hacker itu cukup mudah dan effort enggak terlalu berat buat ngambil data-data tersebut,” kata Niko.

Namun yang menjadi masalah adalah kevalidan data yang diambil oleh para peretas tersebut. Menurutnya tidak bisa masyarakat awam mengetahui data itu asli atau bukan kecuali pihak yang membobol data itu sendiri.

Niko mengatakan, seperti halnya kebocoran data yang dilakukan Bjorka, hanya si peretas yang mengetahui kevalidan data tersebut.

“Cuman yang jadi masalah breach orang-orang mempertanyakan valid atau enggak. Sebenernya yang tahu hanya Bjorka-nya sendiri,” jelasnya.

Baca Juga  Rizki Apriwijaya Dorong SMA Terbuka Dapat Perhatian Lebih dari Pemerintah

Beberapa hari terakhir, nama Bjorka membuat kehebohan dengan membocorkan sejumlah data milik beberapa instansi dan tokoh publik Indonesia. Misalnya saja surat-surat yang ditujukkan pada Presiden RI dan juga data pribadi milik Menteri Kominfo, Johnny Plate. (*)

 

Editor : Pebri Mulyaa


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles