Senin, April 15, 2024

Ir. Sutami, Menteri Termiskin yang Dipercaya Dua Presiden

Indonesiadaily.net – Ir. Sutami adalah sosok teladan yang menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik di era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.

Sutami kerap disebut sebagai menteri termiskin dalam sejarah Republik Indonesia. Dimana saat itu, tugasnya yang mengawasi banyak proyek pembangunan, namun hidup dalam kondisi yang sangat sederhana.

Bahkan, PLN pernah mencabut listrik di rumahnya karena Sutami telat bayar listrik. Sebelum akhir hayatnya, dia jatuh sakit dan kekurangan gizi. Menteri yang bersahaja itu disebut-sebut tak punya uang untuk membayar rumah sakit.

Menjadi ironis sebab Sutami selama 14 tahun menjabat menteri untuk dua presiden.

Profil Ir Sutami

Sutami lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Oktober 1928. Ia dikenal mencurahkan tenaga dan pikirannya tanpa melihat latar belakangnya.

Dikutip dari Intisari, Sutami menghabiskan masa kecilnya di Surakarta hingga bersekolah di SMA Negeri 1 Surakarta.

Selanjutnya, Sutami melanjutkan pendidikan dengan berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga mendapatkan gelar insinyur.

Karier di pemerintahan Sutami ditunjuk menjadi Menteri Negara diperbantukan sejak era Kabinet Dwikora tahun 1964 di era kepemimpinan Presiden Soekarno.

Baca Juga  Bikin Kaget, Ular Piton Sembunyi di Plafon Pabrik Mainan

Tidak berhenti disitu, Sutami kemudian dipercaya menjadi Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk urusan penilaian konstruksi.

Kariernya bertahan dengan mengisi jabatan yang sama pada Kabinet Dwikora II tahun 1966. Jabatan sebagai seorang menteri masih terus melekat pada Sutami, setidaknya hingga tahun 1978.

Selama itu, sosoknya dikenal sebagai pribadi yang sangat sederhana sehingga begitu dipercaya oleh Soekarno dan Soeharto.

Setelah mengalami kondisi sakit, Ir Sutami meninggal dunia pada 13 November 1980 saat usianya menginjak 52 tahun.

Ia diketahui mengidap penyakit lever yang diduga terjadi akibat Sutami sibuk bekerja tanpa memikirkan kesehatannya dirinya sendiri.

Meski telah tiada, namun nama Ir Sutami diabadikan untuk menamai banyak hal di Indonesia, mulai dari Jalan Ir. Sutami di Surakarta, hingga Bendungan Sutami di Katangkates, Kabupaten Malang.

Rumah menteri atapnya bocor

Siapa sangka, meski menjabat menjabat Menteri PU, nyatanya Sutami justru hidup di rumah yang atapnya bocor.

Baca Juga  Ramai-ramai Mantan Kapolri Datangi Mabes, Ini Penyebabnya

Hal itu terungkap dari tulisan Hendropranoto Suselo, Staf Ahli Menteri PU, dalam Edisi Khusus 20 Tahun Majalah Prisma yang diterbitkan LP3ES (1991).

Dikisahkan, saat Lebaran tiba, rumah Sutami ramai dikunjungi tamu. Bukannya takjub karena mendatangi rumah menteri yang pada umumnya serba berkecukupan bahkan cenderung mewah, para tamu justru dibuat kaget.

Sebab mereka melihat ke atap dan banyak bekas bocor pada langit-langit rumah Sutami. Rupanya sudah lama atap rumah Sutami bocor.

Rumah baru lunas setelah pensiun, listrik dicabut PLN

Bahkan, rumahnya yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, dibeli dengan cara mencicil.

Saat akan memasuki masa pensiun, rumah itu barulah berhasil dilunasi. Cerita betapa sederhananya kehidupan seorang Menteri Sutami belum berhenti sampai di situ.

Selain atap yang bocor, layanan listrik di rumah Sutami juga sempat dicabut oleh PLN. Ini terjadi di kediaman pribadi Sutami yang ada di Kota Surakarta.

Baca Juga  Ini Sumber Pendapatan Dokter Terkaya di Indonesia, Kekayaannya Mencapai RP 63,7 Triliun

Bukan lagi perkara sederhana, Sutami ketika itu memang sempat kekurangan uang, sehingga ia terlambat membayar tagihan listrik yang harus ia bayar.

Alhasil PLN pun melakukan pencabutan layanan sementara untuk kediaman Sutami.

Sakit hingga tak punya uang

Kisah lainnya, ketika Sutami sakit, ia bahkan takut dirawat di rumah sakit, karena ia tidak mempunyai cukup uang.

Ia baru mau dirawat di rumah sakit ketika pemerintah turun tangan. Selama menjalani perawatan medis di rumah sakit itu, Presiden Soeharto kerap menjenguk Sutami. Tak heran, julukan sebagai “Menteri termiskin”.

Semua itu terjadi akibat Sutami yang tak pernah mau memanfaatkan fasilitas negara secara berlebihan. Sutami memang dikenal tidak pernah hidup bermewah-mewahan, sekalipun ia adalah menteri kabinet selama 14 tahun.

Saat tak lagi menjadi menteri di tahun 1978, dia pun mengembalikan semua fasilitas negara yang pernah ia terima. (*)

 

Editor : Pebri Mulya


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles