Kamis, Juli 25, 2024

Ini Penyebab ‘Harta Karun’ Indonesia Belum Dimanfaatkan Secara Maksimal

Indonesiadaily.net – Indonesia dianugraho ‘harta karun’ sumber daya alam yang melimpah. Baik itu dalam sektor energi pertambangan, Indonesia juga memiliki ‘harta karun’ di bidang energi baru terbarukan (EBT). Salah satunya Indonesia tercatat pemilik sumber daya panas bumi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, sampai Desember 2020 sumber daya panas bumi Indonesia mencapai sebesar 23.965,5 Mega Watt (MW) atau sekitar 24 Giga Watt (GW).

Amerika Serikat menduduki peringkat nomor wahid untuk sumber daya panas bumi yakni mencapai 30.000 MW. Selanjutnya, Indonesia 23.965 MW, Jepang 23.400 MW, Kenya 15.00 MW dan terakhir Islandia 5.800 MW.

Baca Juga  Wajib Tahu! Ini Daftar Pinjol Legal yang Terdaftar di OJK

Dengan cadangan yang besar tersebut, namun sungguh disayangkan Indonesia belum bisa memanfaatkannya secara maksimal. Buktinya, kapasitas terpasang PLTP di Indonesia hingga akhir 2021 baru mencapai 2.276,9 MW atau baru 9,5% dari sumber daya yang ada.

Lambatnya perkembangan sumber energi panas bumi di Tanah Air juga diakui oleh Presiden Asosiasi Panas Bumi Indonesia, Prijandaru Effendi.

Prijandaru mengakui, pengembangan panas bumi di Indonesia berjalan lambat, rata-rata pertumbuhan per tahun hanya 60 Mega Watt. Padahal, sumber daya masih ada 24 GW.

Menurutnya, lambatnya perkembangan panas bumi menjadi sumber energi listrik yakni Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Tanah Air karena masih terdapat sejumlah kendala, terutama harga.

Baca Juga  Jalur Objek Wisata Telaga Sarangan Magetan Tertutup Longsor

Dia menilai saat ini masih ada kesenjangan harga yakni antara harga keekonomian untuk menarik investor dengan harga listrik terjangkau bagi pembeli, dalam hal ini satu-satunya pembeli yakni PT PLN (Persero).

“Lambatnya pertumbuhan ini karena tantangan saat ini masih berproses untuk menemukan solusinya, terutama dalam hal kesenjangan harga yaitu antara harga yang memberikan keekonomian yang menarik bagi investor dengan harga yang terjangkau oleh pembeli satu-satunya, yakni PLN. Ini lah masalah utama yang harus kita cari,” jelasnya.

Tak hanya itu, menurutnya ketidakpastian regulasi juga turut berdampak pada pengembangan panas bumi di Tanah Air. Pasalnya, target kapasitas terpasang PLTP di dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) terlalu ambisius, sehingga akan sulit dicapai. Pada 2025, PLTP terpasang ditargetkan mencapai 7,2 GW, lalu 2030 10 GW, dan di 2050 mencapai 17 GW.

Baca Juga  Ihsan Akui Catut Nama Ade Yasin Soal Uang Sekolah eks Kepala BPK Jabar

“Pencapaian target tersebut gak mudah, karena perlu kerja keras,” ujarnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles

Perumda Tirta Kahuripan