Ini Pendapat Rizal Ramli jika Anwar Ibrahim Jadi Perdana Menteri Malaysia

pendapat rizal ramli
Rizal Ramli

Indonesiadaily.net – Dukungan Anwar Ibrahim untuk jadi Perdana Menteri (PM) Malaysia mulai datang dari Koalisi Barisan Nasional. Sementara itu, Pemimpin koalisi Pakatan Harapan Anwar Ibrahim ditunjuk oleh Raja Malaysia rencananya ditunjuk sebagai Perdana Menteri (PM). Rencana tersebut beredar usai kebuntuan politik mewarnai negara itu usai pemilu 19 November 2020.

Pelantikan Anwar sebagai PM ke-10 akan digelar Kamis (24/11) sore waktu setempat.

“Selamat Datuk Anwar Ibrahim,saya turut gembira. I used to say you are a humanist and Asian Mandela,” kata DR Rizal Ramli (RR) yang dulunya adalah Menko Ekuin Presiden Gus Dur dan mantan aktivis demonstran ITB yang juga sahabat Anwar .

“Ini capaian dan dedikasi dari perjuangan yang panjang,” lanjut Rizal Ramli yang sempat di penjara sewaktu Orde baru. Namun terus berjuang untuk keadilan, kemanusiaan dan berpihak pada aspirasi rakyat banyak.

Anwar belum lama ini memberi kuliah/ceramah di Nurcholish Madjid Society pimpinan Mbak Omi Komaria Madjid MA dan Yudi Latif PhD, dimana Anwar bercerita pergulatannya bersama Cak Nurcholish Madjid di masa mudanya.

Baca Juga  Rizal Ramli : Kasus Ferdy Sambo Awal People Revolution Digital

Seperti dilansir The Star dan Malay Mail, Kamis 24 November 2022, Pengawas Rumah Tangga Kerajaan Malaysia, Ahmad Fadil Shamsuddin, menyatakan Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah telah menyetujui penunjukan tersebut.

Diketahui bahwa Pasal 40 ayat 2(a) dan Pasal 43 ayat 2(a) pada Konstitusi Federal Malaysia mengatur soal wewenang Raja Malaysia untuk menunjuk Perdana Menteri yang diyakini memiliki dukungan mayoritas dalam parlemen atau Dewan Rakyat.

Koalisi Barisan Nasional (BN) yang pernah menguasai pemerintahan Malaysia mengindikasikan mendukung Anwar Ibrahim, selaku pemimpin koalisi Pakatan Harapan, sebagai perdana menteri baru usai pemilihan umum (Pemilu) mentok.

Anggota utama BN, Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) dalam rilis resmi pada Rabu 23 November 2022 malam waktu setempat, seperti dikutip dari Reuters.

“Barisan Nasional mendukung dan mengambil bagian dalam pemerintahan persatuan yang tak dipimpin oleh Perikatan Nasional (PN) untuk memastikan pemerintahan yang stabil dan makmur,” ujar Sekretaris Jenderal UMNO, Ahmad Maslan, seperti dikutip Channel News Asia.

Pernyataan itu muncul usai UMNO menggelar rapat dengan Perikatan Nasional dan Pakatan Harapan.

Baca Juga  KPU Depok Verfak Parpol Calon Peserta Pemilu 2024, Ini Daftarnya

Namun, pernyataan itu tak menyebut secara gamblang mendukung salah satu tokoh untuk jadi perdana menteri, termasuk nama Anwar Ibrahim.

Pada Sabtu lalu, Malaysia menggelar pemilu parlemen. Namun, tak ada partai atau koalisi partai politik yang mengantongi suara mayoritas.

Menurut konstitusi Malaysia, untuk bisa membentuk kabinet baru koalisi atau partai politik harus mengantongi 112 suara dari 222 total kursi parlemen.

Koalisi pimpinan Anwar, Perikatan Harapan (PH) meraih suara 82 kursi, terbanyak dalam Pemilu. Sementara itu, aliansi Muhyiddin Yassin, Perikatan Nasional (PN) mendapat 73 kursi dan Barisan Nasional punya 30 kursi.

Sehari setelah pemilu, Muhyiddin mengklaim mendapat dukungan dari dua kubu yang lebih kecil yakni Sabah dan Sarawak. Kursi yang ia dapat pun bertambah menjadi 101, tetapi ini belum mencapai ambang batas.

Menanggapi kondisi semacam itu, Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah memberikan batas waktu kepada kedua kubu untuk membentuk mayoritas dan menyetorkan calon nama PM hingga Selasa 22 November 2022  siang.

Namun, mayoritas tak kunjung terbentuk. Raja kemudian memanggil Anwar dan Muhyiddin ke Istana Negara, tetapi cara ini juga tak menuai hasil.

Baca Juga  Menuju Pemilu 2024 : 5 Parpol Baru yang Diisi 'Wajah-wajah' Lama

Dalam pertemuan itu, raja sempat mengusulkan agar Muhyiddin dan Anwar membentuk pemerintahan bersama. Namun, Muhyiddin menolak.

Sementara itu, Anwar mengungkapkan dalam pertemuan tersebut raja menegaskan harus ada kerja sama seluruh partai agar terbentuk pemerintahan yang kuat.

Pada Rabu, kemarin, raja memanggil 30 politisi koalisi BN untuk menentukan PM baru. Hari ini, ia juga akan berdialog dengan raja di sembilan negara bagian.

Menurut laporan media lokal, pertemuan antar raja itu akan berlangsung pada 10.30 pagi waktu setempat. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *