Kamis, Juli 18, 2024

Dinamika politik Anies Baswedan

Oleh : Eko S Dananjaya

Aktivis mahasiswa 80-an dan penggiat politik.

 

Indonesiadaily.net – Hari ini (31 agustus 2023) jagat politik berubah. Bukan hitungan hari, tapi menit. konstelasi politik sedang mengalami pergeseran secara signifikan. Perubahan politik secara luas ditandai dengan hadirnya Anies Rasyid Baswedan di kediaman ibu Muhaimin Iskandar di Jombang Jawa Timur. Kedatangan Anies ke rumah orang tua cak Imin membuat sontak partai pendukung, karena Anies minta doa restu pada ibu cak Imin untuk pilpres 2024. Selain minta doa, Anies juga berziarah ke makam ayah cak imin ( almarhum Iskandar) dan sesepuh ulama Nahdatul Ulama.

Politik simbolis secara vulgar ditampakkan oleh Anis dikalangan nahdliyin. Ini sebuah tindakan politik yang membawa pembaharuan di luar paradigma baku. Yang bisa jadi akan disambut hangat oleh warga NU. Ini artinya, Anies dengan piawai memainkan perannya sebagai key figure in determining political direction. Cemistri koalisi tambahan yang di lakukan oleh Anies tidak lepas dari keterlibatan Surya Paloh.

Tokoh semacam Surya Paloh dan Yusuf Kalla adalah Don King politik Indonesia. Keterlibatan Surya Paloh dan Yusuf Kalla dalam event pilkada maupun pilpres tidak diragukan lagi. Banyak orang mengatakan, tangan dingin Surya Paloh sering membawa keberuntungan. Walau banyak orang di awal pencalonan Anies merasa ragu akan keseriusan Surya Paloh membawa Anis Baswedan menuju perhelatan politik nasional. Tampak kini Surya Paloh justru memperlihatkan sebagai arsitek politik yang tegas dan cadas. Surya tidak ingin mewarisi determinasi politik atau ganjalan dengan disertai penekanan dalam kolaborasi bersama partai sesama pengusung Anies. Tercatat ada dinamika beruntun selama beberapa minggu ini. Tiga partai pengusung Anies dirasa senyap, adem ayem. Akan tetapi di akhir bulan September ini terdapat fluktuasi koalisi perubahan yang berakibat pasang surut. Riuh serta dinamika dan silang opini sesama koalisipun mengemuka. Apa yang menjadi ramalan sebagian orang ternyata menjadi kenyataan, bahwa koalisi mengalami kontraksi.

Kini partai Nasdem sebagai masinis koalisi, telah mengambil jalur lain. Yang tadinya satu track, saat ini keluar dari zona nyaman. Keberanian sikap Surya Paloh untuk berbeda arah menimbulkan kegoncangan besar di tubuh partai Demokrat maupun PKS. Demokrat langsung menstigma bahwa Anies dan Surya sebagai pengkhianat. Ketidakterimaan partai Demokrat karena keputusan duet Anies- Muhaimin adalah sepihak. Tanpa woro- woro bahkan senyap yang kemudian Demokrat merasa ada ketidak fair- an dalam menentukan kandidat capres cawapres. Demokrat merasa dipecundangi dan ditinggal gelanggang colong playu. Sinyal keras tersebut di utarakan oleh Herzaky Mahendra Putra sebagai juru bicara partai Demokrat saat diwawancara TV one. Dalam tampilannya Herzaky merasa partai Demokrat dikecewakan dengan adanya kesepakatan piagam koalisi yang telah dibangun bersama oleh koalisi perubahan, tapi kemudian di tinggal begitu saja. Anies dan partai Nasdem seperti berkianat dan tidak punya etika. Herzaky dalam wawancara menyayangkan peristiwa ini.

Baca Juga  Teroris Konstitusi dan Republik Rasa Kerajaan

Tapi dibalik peristiwa yang berkembang, banyak orang terkesan Partai Nasdem dan Surya Paloh tidak bisa dipisahkan. Partai Nasdem dengan Surya Paloh ibarat langkah dan pikiran yang berada diatas papan catur meremote secara otomatik. Demikian pula dalam politik. Surya punya talenta alamiah yang kadang sulit diprediksi oleh lawan.

Anies dalam kosa kata politik, merupakan sosok yang ajaib dan misteri. Ajaib karena Anies tidak pernah aktif berpartai. Misteri karena Anies selalu mendapat tempat politik yang excellent. Karir politik Anies linier,melenggang dan stabil. Jarang mengalami kegoncangan dan kontraksi politik yang membuat dirinya terperangkap pada kejumutan dan tempat yang kotor.

Dari sejak muda, Anies telah menunjukkan kepiawaiannya dalam mengatur organisasi kampus maupun masyarakat. Juga pada saat diangkat menjadi mendikbud, gubernur DKI, gagasanya diserap dari keinginan rakyat. Step by step dirinya dengan sabar dan tekun menjalani sebagai pendidik yang baik. Tentu saja dengan ketekunan dan keprofesionalannya. Masyarakat mengenal sebagai orang yang prestisius dalam karir maupun jabatan.

Anies cakap dan luwes dalam berpolitik. Tidak mengedepankan politik antagonis atau konfrontatif. Meskipun lawan- lawan politiknya memanfaatkan kecenderungan diaspora defensifitas Anies. Tapi disitulah Anies mampu mengatasi dan menangkis isyu dengan cara dengan tidak mengkotori lantai. Dari kegusaran lawan, Anies justru mendapat suplemen power untuk lebih optimal memainkan peran politiknya. Walau kali ini dianggap mencedarai partai Demokrat, tapi itu semata taktik dan siasat untuk mengecoh lawan yang ada disana.

Catatan politik hari ini. Anies telah merubah keadaan dan meluluh lantakan kubu lawan dan mencengangkan koalisi internal. Demikian pula cak Imin, juga telah menjalankan politik defensif terhadap koalisi yang telah ia rajut dengan Prabowo. Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya ( KKIR) yang kemudian berubah menjadi Koalisi Indonesia Bersatu ( KIB ). Seperti yang dilansir oleh salah satu pengurus PKB, Syaiful Huda dalam wawancara di televisi swasta. Ia mengatakan, tidak ada kesepakatan bersama dalam merubah nama koalisi dari KKIR menjadi KIB. PKB merasa tidak di ikut sertakan dan di ajak bicara. Ketidak sertaan cak Imin ikut dalam merubah koalisi nama, bisa jadi ada agenda terselubung dari kubu Prabowo yang bisa jadi akan lebih nyaman berjalan dengan Golkar dan PAN.

Baca Juga  Gabung ke PPP atau PKS? Ini Jawaban Sandiaga Uno

Publik kemudian bertanya? Betulkah hanya karena soal perubahan nama koalisi, menjadikan PKB berubah pandangan politiknya? Dan sedemikian cepatkah cak Imin menangkap sinyal Anies dan Surya Paloh untuk memangkas jalan panjang AHY: Agus Harimurti Yudhoyono yang sudah disiapkan jauh hari untuk di cawapres kan dengan Anies. Padahal kalayak umum jelas sudah lama tau bahwa Nasdem , PKS dan Demokrat telah merajut dan mengerucut.

Dinamika politik jelang Pilpres tentu saja mengalami pasang surut. Tidak ada selayang pandang di depan mata. Jika belum ada koalisi baku dengan ditandai ikrar pengumuman bersama antara capres dan cawapres, maka politik masih bisa berjalan dinamis. Koalisi yang dibangun masih bersifat cair. Dan setiap partai masih berkesempatan lakukan manuver. Seiring dengan waktu, apa yang terjadi justru saling mengintip dan menunggu ( wait and see ) diantara sesama koalisi.

Suasana ini dapat kita lihat baik di kubu Prabowo, Ganjar maupun Anies. Yang mana saben hari terjadi silang kepentingan antara satu partai dengan partai lain. Manuver Nasdem dan Anies hari ini bukan suatu kemewahan dalam berpolitik, tapi ini adalah suatu kewajaran dalam memainkan peran protagonis.

Demikian juga apa yang dilakukan oleh koalisi Prabowo dengan minus Muhaimin. Adalah tolak ukur subyektif dengan para meter untung rugi. Karena realitas politik aliran dalam teori sosiologi yang pernah di gagas oleh Ruth McVey menjelaskan bahwa : senyatanya sebuah konsep digunakan untuk menunjukkan adanya pembagian masyarakat, khususnya para santri dan kaum abangan di Jawa.

Prabowo dengan partai gerindra misalnya, kita asumsikan mewakili kaum abangan dengan kecenderungan sebagai sosok mantan tentara. Yang notabene kaum abangan difasilitasi oleh pikiran dan keyakinannya pada paham karismatik nasionalistik. Demikian juga pada PDIP dan Ganjar Pranowo. Sinyalemen lain yang membedakan antara kaum abangan dengan santri terletak pada geografis pilihan politik. Pulau Jawa dihuni oleh keberagaman keyakinan. Dengan demikian, ada asumsi bahwa jika menguasai suara pemilih di pulau Jawa, maka ia akan menang. Sandaran asumsi ini dapat kita petakan dengan pandangan seorang Clifford Geertz. Yakni pada santri yang senantiasa pandangannya dan proses hidupnya bersandar pada ulama, pesantren dan agama.

Baca Juga  Quick Count, Narkoba Jenis Baru

Kutub yang sama ini rupanya dirajut oleh Anies dan Muhaimin sebagai keterwakilan politik identitas, dimana Anis lebih dekat dengan kelompok Muhammadiyah dan nasionalis sedang Muhaimin memiliki basis ke NU – an yang kuat.

Sosok Anies dan Muhaimin mencerminkan politik kompromis untuk membawa Indonesia ke depan. Baik Anies maupun Muhaimin adalah putra bangsa yang punya talenta kepemimpinan dimana keduanya pernah diasuh oleh sebuah perguruan tinggi yang sama.

Simbolisme patih Gadjah Mada di implementasi oleh kedua tokoh politik yang akan membawa kejayaan seperti era Majapahit, yang di patihi oleh maha patih Gajah Mada. Demikian Anies dan Muhaimin mempunyai cakrawala yang sama yakni sama- sama pernah di perguruan tinggi di UGM.

Dari perkembangan politik yang ada sekarang ini. Pastinya ada saja yang merasa kecewa. Anies dengan Surya Palohnya serta Muhaimin dengan PKB nya, telah meniti jalan baru yang bisa saja terjal. Namun dalam rangka meng- assembling rencana komposisi capres- wacapres di koalisi perubahan, tentu saja ini bukan kisah drama.

Ada pepatah yang cukup kita kenal. Tak ada gading yang tak retak, maka perlu sama- sama menyiapkan diri agar lebih matang supaya gading menjadi tidak retak.

Dengan hadirnya Muhaimin sebagai cawapres, anggap saja sebagai suplemen politik di tubuh koalisi perubahan. Dan dikemudian hari tidak menambah lagi beban kesulitan bahwa dengan hadirnya Muhaimin dianggap sebagai lawan politik yang harus dihancurkan. Muhaimin adalah suplemen gizi yang mengandung karbohidrat tinggi dalam gerbang politik menuju perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. (*)


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles