Senin, Juni 17, 2024

Di Indonesia Tidak Ada Stadion Berstandar FIFA, Berikut Penjelasannya

Indonesiadaily.net – Tidak ada stadion berstandar FIFA di Indonesia. Bahkan, tidak ada juga di belahan dunia lainnya. Hal itu disampaikan Mantan Chief Operating Officer PT Liga Indonesia Baru (LIB), Tigorshalom Boboy.

Menurutnya, yang ada adalah stadion dengan kualitas level satu, dua, tiga, empat, atau lima. Ada beberapa hal yang menjadikan stadion masuk dalam suatu level, seperti bedasarkan dari jumlah kapasitas penonton dan faktor pendukung lainnya.

FIFA tidak memberikan label untuk stadion sampai mengeluarkan sertifikasi khusus, namun FIFA melakukan inspeksi ke stadion yang akan digunakan untuk sebuah ajang dan ditetapkan kelayakan, serta apa saja yang perlu diperbaiki.

“Jadi dalam beberapa kesempatan saya sudah menjelaskan, tidak ada stadion standar FIFA. Standar itu hanya untuk beberapa hal yang itu dilakukan asesmen oleh FIFA untuk mendapatkan approval,” kata Tigor.

Baca Juga  BMKG Perkirakan Hari Ini Sebagian Wilayah Indonesia Diguyur Hujan Lebat Waspada Bencana

Standar FIFA menjadi perbincangan luas setelah Jakarta International Stadium (JIS) dinyatakan PSSI belum layak menggelar pertandingan internasional di kalender internasional atau FIFA Matchday.

Rencananya PSSI akan menggunakan JIS untuk menggelar laga kedua pertandingan uji coba melawan Curacao pada 27 September. Namun setelah tim verifikasi PSSI melakukan pengecekan, stadion berkapasitas 82 ribu ini disebut belum layak.

“Kita juga harus bisa melihat bahwa mereka yang memberikan keterangan soal standar itu pasti sudah melakukan verifikasi. Dalam hal ini PSSI sebagai verifikator, regulator, dan Jakpro sebagai pengelola,” ucap Tigor.

Salah satu kondisi yang sering terjadi di Indonesia adalah stadion tidak terawat dengan baik. Saat dibangun sudah sesuai dengan panduan dari konsultan internasional, tetapi kemudian mengalami penurunan kualitas.

Baca Juga  Wakil Ketua DPD Apresiasi Pemerintah Beri Kewenangan Penyidikan Kepada OJK

Banyak stadion yang bisa dijadikan contoh. Beberapa di antaranya adalah Stadion Palaran di Samarinda dan Stadion Utama Riau. Kini kondisi dua stadion tersebut cukup memprihatinkan setelah digunakan untuk Pekan Olahraga Nasional.

“Stadion ini kan bukan yang dibangun terus bisa digunakan terus menerus. Ada hal yang penting, yaitu pemeliharaan. Itu juga butuh orang yang paham, bukan hanya bersihin stadion setelah pertandingan selesai,” ucap Tigor.

“Harusnya ada pengetesan secara berkala, ada yang perlu diganti atau belum. Ini menjadi penting dan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Apalagi rata-rata stadion itu milik pemerintah kota atau provinsi,” katanya.

Sebagai solusi Tigor mengusulkan stadion-stadion ini memiliki konsorsium pengelolaan sendiri. Ia mengibaratkan seperti bandara yang dikelola Angkasa Pura. Hal ini membuat kualitas stadion terjaga.

Baca Juga  10 Parpol 'Gugur', Tidak Lanjut Tahap Verifikasi Pemilu 2024

“Saya itu punya usulan seperti ini. Sama seperti bandara di Indonesia kan ada satu entitas pengelolaan, Angkasa Pura. Posisinya ada di situ. Kenapa tidak coba lakukan saja,” ucap Tigor memberi solusi.

“Sepak bola menjadi industri, menjadi fasilitas yang penting, ini harus dipelihara dan dijaga. Pengawasan juga akan maksimal dibanding diserahkan pemkot atau pengprov, karena rata-rata mereka punya prioritas lain ketimbang stadion,” katanya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles