Senin, Juni 17, 2024

Dari Non-Unggulan Taufik Hidayat Buktikan Juara Olimpiade Athena 2004

Indonesiadaily.net – Siapa yang tidak kenal dengan salah satu legenda hidup bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat. Sejumlah prestasi gemilang ditorehkan pria yang kini berusia 42 tahun.

Taufik meraih peringkat nomor satu dunia saat ia masih berusia 19 tahun pada tahun 2000 setelah menjuarai Malaysia Terbuka, Kejuaraan Asia, Indonesia Terbuka dan sekali lagi menjadi runner-up All England dimana ia dikalahkan oleh pemain Tiongkok, Xia Xuanze.

Bahkan, selepas Alan Budikusuma meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992. Setelah itu, Indonesia harus menunggu 12 tahun untuk kembali mengumandangkan lagu Indonesia Raya di sektor tunggal putra bulutangkis pada ajang olimpiade.

Di usia 23 tahun, Taufik Hidayat berhasil mendulang emas pada Olimpiade Athena 2004 setelah mengkandaskan pemain Korea Selatan, Shon Seung-mo dengan permainan dua gim langsung 15-8, 15-7.

Baca Juga  Berprestasi di Junior, Tapi 'Melempem' di Senior, Nasib Timnas Sepak Bola Indonesia

Langkah Taufik Hidayat bukan terbilang mulus menuju Olimpiade Athena, pasalnya sebelum Air mata Taufik Hidayat tumpah ketika memastikan medali emas Olimpiade Athena 2004, Taufik Hidayat hampir tidak bisa mengikuti karena peringkatnya melewati rangking terakhir dari kuota, yaitu rangking 17 dunia.

Beruntung di saat bersamaan salah satu peserta mengundurkan diri, otomatis pria kelahiran Bandung, 10 Agustus 1981 ini mengisi kuota terakhir.

Praktis nama Taufik Hidayat tidak masuk pemain unggulan di sektor tunggal putra pada Olimpiade 2004 di negeri para dewa. Namun, Taufik mampu membalikkan prediksi dan membawa pulang medali emas ke Indonesia.

Taufik memenangkan medali emas tunggal putra di Olimpiade Musim Panas 2004 dengan mengalahkan Hidetaka Yamada dari Jepang dan Wong Choong Hann dari Malaysia di dua putaran pertama. Taufik mengalahkan Peter Gade dari Denmark 15–12, 15–12 di perempat final dan Boonsak Ponsana dari Thailand 15–9, 15–2 di semifinal.

Baca Juga  Indonesia Berpotensi Alami Resesi Seks, Ini Kata Sosiolog

Bermain dalam pertandingan perebutan medali emas, Taufik mengalahkan Shon Seung-mo dari Korea Selatan 15–8, 15–7 di final untuk memenangkan medali emas.

Pada tahun yang sama, Taufik berhasil mempertahankan gelar Indonesia Terbuka dengan mengalahkan Chen Hong 15–9, 15–3 di final dan meraih gelar Kejuaraan Asia keduanya.

Pada bulan Agustus 2005, Taufik memenangkan gelar tunggal putra di Kejuaraan Dunia dengan mengalahkan peringkat satu dunia Lin Dan dari Tiongkok 15–3, 15–7 di final.

Dengan gelar tersebut, ia menjadi pemain tunggal putra pertama yang menyandang gelar Olimpiade dan Kejuaraan Dunia secara berturut-turut.

Masih banyak sederet prestasi yang ditorehkan Taufik Hidayat, tak pelak peria julukan “Mr Backhand” itu dianggap sebagai tunggal putra terhebat dalam sejarah bulu tangkis Indonesia sebelum pensiun pada 16 Juni 2013.

Baca Juga  Kritik Luhut, Mardani : Harusnya Dukung Pemberantasan Korupsi

Sampai saat ini, belum ada yang bisa mengikuti jejak dua legenda tersebut. Taufik Hidayat pun menjadi tunggal putra Indonesia terakhir yang sanggup menjuarai Olimpiade.

Kini Taufik menjadi mentor Jonatan Christie dan Antony Ginting. Semoga beliau menjadi virus positif bagi Jojo dan Ginting. (Di kutip dari berbagai sumber)


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles